Selasa, Agustus 22, 2006

Bawang Merah SBY


Seperti biasanya setiap tanggal 16 agustus atau H-1 menjelang hari proklamasi kemerdekaan RI, sang presiden negeri Indonesia akan membacakan suatu naskah yang sangat panjang dalam suatu sesi resmi bernama "pidato kenegaraan". Kebetulan saya sempat dan menyempatkan diri untuk sekitar satu jam lebih mendengarkan isi pidato Pak SBY, meskipun hanya siaran ulangnya di tivi. Pfuihhh... memang panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang sekali naskahnya. Maklum, yang dilaporkan adalah progress report yang dihasilkan pemerintah dari setiap aspek, dari tingkat makro hingga mikro. Pidato itu disampaikan di hadapan para wakil rakyat, utusan/dubes negara sahabat, serta utusan2 lain, termasuk di antara yang hadir nampak team olimpiade Fisika Indonesia yang kemarin sukses merebut juara umum Olimpiade Fisika di Nanyang University Singapore. Keberhasilan TOFI itu juga masuk ke dalam naskah yang dibacakan Pak SBY.

Menurut saya pribadi, isi naskah itu sangat bagus sekali.. Dikatakan ekonomi meningkat, kemiskinan menurun, pengangguran menurun, dst.. dst.. Pokoknya menurut naskah yang beliau katakan, Indonesia sepertinya menunjukkan kebangkitan di segala aspek.. Manis memang kata2nya. Saya yakin ada para Ph.D.-Ph.D. bidang komunikasi yang berperan menyusun naskah tersebut. Tapi, pada kesempatan kali ini saya tidak ingin menanggapi kesesuaian apa yang ada di naskah dengan kenyataan di lapangan. Saya kali ini akan membahas sisi lain dari sesi pidato kenegaraan SBY itu.

Pertama yang ada dalam benak saya ketika melihat pidato kenegaraan adalah perasaan kasihan sama Pak SBY. Bayangkan sodara2, naskah satu jam lebih itu dibacain sendiri oleh Pak SBY. Sambil berdiri lagi, bukan duduk.. bayangin coba! Bahkan saking lamanya, 2 pengawal di belakang SBY yang notabene anggota TNI berpangkat perwira pun sempat berganti shift dengan 2 perwira TNI cadangan.. Sedangkan Pak SBY? Terus pidato...

Pak SBY bukan tidak ada lelahnya, sesekali dia meminta izin kepada hadirin untuk minum air putih sebelum melanjutkan pidato kembali. Bahkan ada suatu saat di mana ada kesalahan ucap oleh beliau. Yang seharusnya "pajak barang mewah" pak SBY mengucapkan "pajak bawang merah". Sebenarnya banyak hadirin yang tak sadar dengan kesalahan ucap itu karena memang itu sudah memasuki durasi satu jam lebih dan tampaknya hadirin sudah tidak konsentrasi pada pidato yang disampaikan. Namun ketika beliau meralat pernyataannya dengan mengucapkan: "Maaf saya ulangi, pajak barang mewah bukan pajak bawang merah", spontan banyak hadirin yang lantas sadar bahwa tadi telah terjadi kesalahan sebut oleh presiden. Langsung suasana menjadi riuh ramai, ada yang tertawa, tersenyum, dsb.. (Jangan2 itu sengaja dilakukan SBY untuk kembali menarik perhatian hadirin??).

Ya, setelah acara itu saya kembali menyadari bahwa menjadi pemimpin itu sangat berat. Bukan hanya Presiden saja, tapi setiap jabatan pimpinan. Termasuk pemimpin bagi diri sendiri.

img src : http://bizzer.com/images/onion.JPG

7 komentar:

Anonim mengatakan...

pi~>> situ rajin juga ya,, dengerin pidato kenegaraan, kalo Pit sih pasti dah sibuk meramaikan lomba2 RT biar dpt bingkisan cantik..hehehe

Anonim mengatakan...

to pi~ >> siaran ulangnya malem, jadi daripada gak ada kerjaan mendingan jadi warganegara yang baik. Tapi belakangan isi pidato yang manis itu banyak mendapat kritikan karena banyak data yang dipalsukan/tidak akurat.

Anonim mengatakan...

Mungkin lain waktu kita bisa tau seberapa besar selera "entertainer"nya SBY. Selain bisa nyanyi, melawak juga bisa...... Mungkin nanti perwakilan dari "para wakil rakyat" bisa membalas pidato tersebut dengan syair "Jujurlah padaku....bahwa rakyat masih belum maju..." :)

Anonim mengatakan...

Mungkin lain waktu kita bisa tau seberapa besar selera "entertainer"nya SBY. Selain bisa nyanyi, melawak juga bisa...... Mungkin nanti perwakilan dari "para wakil rakyat" bisa membalas pidato tersebut dengan syair "Jujurlah padaku....bahwa rakyat masih belum maju..." :)

Anonim mengatakan...

to mutz> "Jujurlah padaku....bahwa rakyat masih belum maju" tidak bisa menggantikan "Jujurlah padaku....bila kau tak lagi suka". alasannya karena klausa pada kata "Jujurlah padaku....bahwa rakyat masih belum maju" (16 klausa) lebih banyak dibanding "Jujurlah padaku....bila kau tak lagi suka" (14 klausa). Klausa = pencucapan penggalan kata.

Anonim mengatakan...

What ever....NT dah kyak ikutan AFI aja... :)

yanmaneee mengatakan...

coach handbags
kd shoes
golden goose sneakers
birkin bag
nike sneakers
curry 6
polo ralph lauren
retro jordans
yeezy boost 350 v2
nike air max