Selasa, Agustus 29, 2006

Susahnya cari soto


Kemarin selesai ngajar di Gama 88 Pamulang, perutku memanggil-manggil. Dia bilang dia pingin makan. Aku berpikir sejenak, kira2 makanan apa yang cocok untuk perutku yang kosong ini ya? Ahaa.. kebetulan di deket Gama 88 ada warung soto. Ya udah aku putuskan untuk makan soto aja. Eh tapi pas ke warung soto itu, aku mendapat jawaban yang menyakitkan perut: "Sotonya habis Mas!" Ya udah aku putuskan untuk makan di perjalanan pulang aja nanti.

Ok, aku pulang menuju Depok dengan motor berjok biru ku. Dalam perjalanan, hasrat untuk makan malam dengan soto terus menghantuiku. Aku berazzam (bertekad) untuk mencari warung soto di tepi jalan. Jadi perjalanan malamku waktu itu ada dua misi: pulang ke Depok sambil searching warung yang menjual soto di pinggir jalan.

Di jalan Dr. Setiabudi kutemui warung pinggir jalan yang tertulis sedia soto ayam. Aku pun berhenti. Namun ketika kuhampiri, ternyata warung itu hari itu tidak membuat soto.. Kecewa, tapi gak aku masukin perut.. eh maksdunya masukin hati. Karena aku yakin kalau dimasukin hati, imbasnya akan membuat laparku menjadi-jadi. Perjalanan kulanjutkan.

Waduh ternyata susah juga menemukan soto malam itu. Oh iya, sebelum berlanjut, definisi soto yang aku maksud adalah soto yang disediakan khusus di warung soto. Bukan seperti warteg yang bertuliskan "sedia soto". Tapi dengan saklek pada definisi itu, rupanya aku sangat sulit menjumpai impianku. Ok akhirnya aku menyerah. Definisi "soto" aku perluas menjadi "soto yang disediakan di semua warung, termasuk warteg". Nah ketika melintas di Jalan Moh. Kafi I ada warteg lumayan besar bertuliskan "sedia soto ayam/babat". Melihat itu, aku pun berhenti. Tapi lagi-lagi impianku tidak tercapai. Sotonya sudah habis. Yah apa boleh buat, aku pun harus melanjutkan perjalananku dengan terus digelayuti hasrat makan soto.

......

Sampai di perempatan Kukel, aku melihat ada warung bertuliskan "sedia soto". Aku masuki dan... untuk ketiga kalinya aku harus bersabar karena ternyata warung itu penuh sesak dengan pelanggan. Tak ada kursi tersisa untukku. Aku berfikir mungkin ALLAH punya rencana dengan tidak mempertemukanku dengan makanan bernama soto. Akupun berpikiran untuk makan apapun kalau memang sampai kontrakan tidak kutemui soto.

Tapi apa yang terjadi saodara2? Penantianku akhirnya berujung manis. Tepat sebelum gerbang keluar kukel ada warung yang menjual soto. Dan alhamduliLLAH sotonya masih ada. Dengan tegas aku berkata: Mbak soto ayamnya satu ya!.

AlhamduliLLAH akhirnya kudapatkan sotoku di warung itu. Dari kejadian itu akhirnya aku bertekad bila di kemudian hari ibuku masak soto lagi di rumah, aku tak akan segan2 untuk menikmatinya dengan lahap..

sumber gambar : http://keroppers.hp.infoseek.co.jp/jakarta/CIMG19692.jpg

4 komentar:

Anonim mengatakan...

hahah...nasib anak kost.
sukma2...sampe segitunya berburu soto. :)

Anonim mengatakan...

pi~>> huhuhuhu,,, mauuuuuuuu jugaaaaa

Anonim mengatakan...

:D Nasib anak kontrakan euy....

Anonim mengatakan...

Saya rasa ini bukan nasib, tapi takdir (kalaupun maknanya sama tapi setidaknya lebih halus bahasanya). Eh hari sabtu di akhir minggu kemarin ibuku berencana masak soto di rumah. Tapi sayang hari sabtu itu saya tidak bisa makan sesaat pun di rumah karena ada acara.