Kamis, Agustus 24, 2006

Risalah Bulan Sya'ban


Tak terasa kita sudah memasuki bulan Sya'ban. Dalam tradisi di Indonesia ada beberapa "ritual" yang jamak dilakukan masyarakat, misalnya saja nisfu sya'ban. Nah untuk itu saya coba nukilkan sebuah artikel dari syariahonline.com yang semoga bisa menjawab keraguan orang yang masih ragu. Selain itu di artikel ini juga mengungkit keutamaan bulan sya'ban. Akhir kata saya ucapkan selamat menikmati hidangan ilmu ALLAH yang berjudul "Risalah Bulan Rajab"
========================================================

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba'd.

Bulan Sya'ban adalah bulan dimana amal shalih yang dilakukan manusia, diangkat ke langit. Hal tersebut didasarkan pada hadits Rasulullah SAW :Dari Usamah bin Zaid berkata: Saya bertanya: "Wahai Rasulullah SAW, saya tidak melihat engkau puasa isuatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya'ban". Rasul saw bersabda:"Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat
amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya alam kondisi puasa" (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i dan Ibnu Huzaimah).

Di samping itu bulan Sya'ban yang letaknya persis sebelum Ramadhan seolah menjadi "fase pemanasan" beribadah untuk menyambut Ramadhan. Sehingga isyaratnya adalah kita perlu menyiapkan bekal ibadah untuk menyambut bulan Ramadhan. Dalam hal empersiapkan hati atau ruhiyah, Rasulullah saw. mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan sya'ban, sebagaimana yang diriwayatkan 'Aisyah ra. berkata:
"Saya tidak melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan sya'ban" (HR Muslim).

Sedangkan khusus dalam keutamaan malam pertengahan bulan sya'ban (nisfu sya'ban), memang ada dalil yang mendasarinya meski tidak terlalu kuat. Diantaranya hadits berikut ini :
"Sesungguhnya Allah SWT bertajalli (menampakkan diri) pada malam nisfu sya'ban kepada hamba-hamba-Nya serta mengabulkan doa mreka, kecuali sebagian ahli maksiat".

Sayangnya hadits ini tidak mencapai derajat shahih kecuali hanya dihasankan oleh sebagian orang dan didhaifkan oleh sebagian lainnya. Bahkan Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan bahwa tidak ada satu hadits shahih pun mengenai keutamaan malam nisfu sya'ban. Begitu juga Ibnu Katsir telah mendha'ifkan hadits yang menerangkan tentang bahwa pada malam nisfu sya'ban itu, ajal manusia ditentukan dari bulan pada tahun itu hingga bulan sya'ban tahun depan.

Sedangkan amaliyah yang dilakukan secara khusus pada malam nisfu sya'ban itu seperti yang sering dikerjakan oleh sebagian umat Islam dengan serangkaian ritual, kami tidak mendapatkan satu petunjuk pun yang memiliki dasar yang kuat. Seperti membaca surat Yasin, shalat sunnah dua raka'at dengan niat minta dipanjangkan umur, shalat dua rakaat dengan niat agar dimurahkan rezeki dan seterusnya.

Memang praktek seperti ini ada di banyak negeri, bukan hanya di Indonesia, tetapi di Mesir, Yaman dan negeri lainnya. Bahkan mereka pun sering membaca lafaz do'a khusus yang -entah bagaimana- telah tersebar di banyak negeri meski sama sekali bukan berasal dari hadits Rasulullah SAW.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Yupz... Banyak banget kebiasaan masyarakat yang bisa dibilang bid'ah. Saya pernah sedikit membaca buku ttg sejarah kebudayaan Islam di Indonesia. Sampai sekarang masyarakat Indonesia (khususnya Jawa tradisional/ keraton)membiasakan acaran maulid, isra' mi'raj, bahkan ta'ziyah dicampur dengan berbagai rangkaian upacara yang tidak pernah diajarkan Islam.

Contoh hal yang sering ditemui adalah tahlilan. Konon masyarakat Jawa tradisional/keraton menganggap tahlilan wajib diadakan. Karena hal itu adalah yang diajarkan oleh para Sunan.

Padahal dalam buku tersebut dijelaskan, bahwa pada zaman masuknya agama Islam di Jawa, agama hindu masih amat kental dianut oleh masyarakat Jawa. Sunan2 tsb menyebarkan agama Islam dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengurangi kemaksiatan. Pada zaman tsb ketika ada orang yang meninggal, keluarga yang ditinggalkan biasanya berkumpul minum2 arak untuk melupakan kesedihan. Untuk menghilangkan kebiasaan itu, sunan kalijaga (red-kalo ga khilaf)menanamkan kebiasaan pada keluarga tsb utk berdo'a dan berdzikir.

Namun entah mengapa, masyarakat menganggapnya hal tsb merupakan ajaran islam yang mutlak harus diikuti.

Dalam menyikapi hal ini, banyak spekulasi bermunculan. diantaranya ada yang menganggap bahwa sunan2 belum utuh dalam berda'wah, dan hal2 tsb belum bisa diluruskan oleh sunan2 karena keterbatasan usia.

Wallahu'alam bisshawwab

Anonim mengatakan...

makasih tambahannya Bu Ustadzah...